Kamis, 11 Agustus 2016

INDIA




Baru ngetik 5 huruf ini aja, rasanya dah pengen Nyanyi hahaa
Kenal film India itu sebenernya udah dari SD, selain film Vampire dan Telenovela. Udah kenal dengan Amitabh bhacan, Shakhrukh Khan, Salman Khan, Anil Kapoor dan temen temennya. Kebiasaan orang India tiap ada hujan nyanyi, liat tiang nyanyi, lagi di lapangan nyanyi, lagi nangis nyanyi, itu semua benar adanya kawan. 

Pas masuk Pondok, ternyata ketemu orang-orang Penyuka Film yang sama juga hahay. Ini namanya Gayung Bersambut, Kedua tangan bertepuk. Bahkan ada loh Kakak kelas Acu yang punya satu album foto, isinya bintang pelem India semua. (Iya, walau sempet Acu sita album foto itu waktu jadi Pengurus, sontak kakak kelas itu marah banget sama Acu hihihi)

Nokijah alias Siti Khodijah, namanya bagus bukan buatan. Tapi sama kita malah sering dikenal dengan Nokijah. Orang Indramayu. Nok itu Eneng maksudnya, Nona. Sementara Ijah ya diambil dari nama panjangnya.

Nokijah juga merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sangat menyukai India. Setiap harinya tiada pernah absen nyanyi lagu India. Dia punya buku khusus yang isinya lirik lagu. Hafal hampir semua lagu India. Hafal judul judul Film termasuk para Pemain Utamanya.

Hafal siapa saudaranya siapa, Siapa anaknya siapa, siapa ayahnya siapa, bahkan  mungkin lebih mengenal keluarga artis India daripada keluarganya sendiri haha.

Nokijah bahkan bisa buat lagu berbahasa India loh. Ini ceritanya Acu tau langsung dari temen yang pindah pas mau naik kelas 5 (2 Aliyah). Jadi untuk tanda kado perpisahan, Nokijah mempersembahkan satu lagu untuk Yani. DAN BERBAHASA INDIA. Amboooi. Kalau lah ada ekskul Bahasa India di Pondok dulu, mungkin Nokijah udah jadi Mastahnya. LUAR BIASA!

Penikmat india bukan hanya Santri Putri, tapi Santri Putra JUGA! Tuh sengaja Acu kasih CAPITAL hurufnya. Karena seperti lumrahnya yang terjadi di santri putri, Saban Jum’at, santri putra juga nongkrongin TV di kantor buat nonton India. Atau nongkrong di Warung Ngkus di samping Pondok.

Yang Acu tau Suka banget India itu TANZIL FATAR bin Syahroni. Biarin ditulis lengkap aja namanya. Orangnya gak pernah online ini haha. Itu si Tanzil kalo di kelas, setiap awal masuk kelas, setiap ganti pelajaran, atau jam istirahat, langsung deh nyanyi India. Mulai Kuch kuch Hota Hai, Dil to pagal hai, Boli curia, Kabhi Kushi Kabhi Gham, apaaal (Ya ampun, nulis judul-judul lagunya aja, dah bikin Acu pengen Nyari tiang haha). Dari mulai awal lagu sampai cengkok cengkok pemanisnya dia tau. Keren kan.

Mau ada musik pengiring (Catat: Musik pengiring ini maksudnya, gendang Meja ala Jejen Zainudin yaa) atau konser tunggal, bener bener tunggal, gak ada yang nemenin. Tanzil hobi banget nyanyi India. Bahkan ternyata sampe sekarang dia juga masih suka India. Ya kalau udah suka, mau gimana lagi ngomongnya ya ^-^ Belum lagi kalo duet sama Nokijah. Beeeuh, macam nonton Shakhrukh Khan dan Kajol konser langsung, gak pake bayar tiket.

Balik lagi ke santri Putri yaa... Tempat nonton kita itu ganti ganti. Tergantung kondisi TV yang memungkinkan untuk ditonton di mana.

Pernah di kamar kak Desi. Tvnya ukuran berapa inch ya, gak terlalu faham lah soal inch-inch-an. Seukuran panjang 2 Jengkal lah, lebarnya 1 setengah jengkal. Jadi berapa inch tu?

Tvnya hitam putih. Jadi kita gak tau warna sari yang dipakai Rani Mukherjee warna apa, menerka nerka sendiri aja. Biar hitam putih gitu, tetap seru. Full tempat pokoknya kamar kak desi. Pada ngelampar kayak ikan siap dipepes haha.

Pernah juga di Mushola Putri. Tvnya lebih gede, paling enak dan luas sebenernya kalo nonton di Mushola. Pepes ikannya bisa dapet lebih banyak ^-^. Tvnya ada warnanya, ternyata baru sadar kalo sari yang dipake Rani Mukherjee memang abu-abu, jadi buyar semua khayalan dan terkaan itu.

Nah, yang lebih sering dan  masih berlanjut sampe sekarang itu nonton di kamar Bu Misbah, seperti yang temen temen baca di awal cerita ini yaa. Walau India gak ada lagi setiap Jum’at pagi. Tapi kadang santri masih juga suka nonton, sambil makan jajanan dan bawa bantal. Tetep, bikin barisan pepes ikan.

Dooooh, jadi pengen nonton indiaaaaaa

Minggu, 07 Agustus 2016

JUM’AT



Hari Jum’at merupakan hari raya Umat Islam. Tak hanya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha, satu hari di setiap minggu di setiap bulan dan di setiap tahun, kami berhari raya. Ramai orang khususnya para lelaki tampan, yang pergi ke Masjid menunaikan shalat Jum’at. Tak tampan pun mesti terlihat tampan, rapih, wangi dan bersih.

Hari Jum’at di Pondok merupakan hari libur, tidak ada kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Tapi bukan berarti kami tak berkegiatan. Banyak kegiatan ekstrakurikuler diadakan untuk memanfaatkan hari istimewa ini.

Selepas Shalat berjama’ah, baik santri putra dan santri Putri akan berkumpul di halaman masing masing asrama, membentuk dua shaf barisan dan berhadap-hadapan. Kami menggelar Muhadatsah/Conversation. Akan diganti setiap minggunya, Minggu ini berbahasa Arab, minggu depan berbahasa Inggris, demikian terus berganti ganti.

Tema sudah ditentukan oleh Qismul Lughah (Bagian bahasa), topik apa yang akan dijadikan obrolan kami sepanjang pagi di sesi Muhadatsah tersebut. Temanya sederhana, jarang yang njelimet, karena memang tujuannya untuk melatih kemampuan berbahasa santri. Tema macam Fis Suuk (Di Pasar), Yaumul ‘Uthlah (Hari libur) kerap menjadi Maudhu’ (tema) yang terus diulang ulang.

Qismul Lughah Putri seperti kak Maya Naidah Sari, kak Eliya Dewita, kak Lisnawati, teh Annisa dan generasi sesudahnya tak jarang akan berkeliling dari ujung ke ujung mengawasi percakapan. Apakah memang bercakap-cakap sesuai tema, atau malah membicarakan santri Putra yang juga sedang mengobrol tak jauh di seberang lapangan.

Qismul Lughah
juga akan siap menjawab kira kira ada mufradat/kosakata yang terlupakan, maklumlah, kadang otak keras mengingat, tapi tak kunjung turun ke lisan. Dibutuhkan otak lain yang lebih pintar dan hafal untuk membantu menurunkannya.

Muhadatsah akan berlangsung kurang lebih setengah jam. Diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan dan ucapan Hayya Nakhtatim bil hamdalah (Mari kita akhiri dengan mengucap hamdalah), serempak para santri akan berucap alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Selepas Muhadatsah, para Santri Putri akan berhamburan masuk ke dalam kamar masing masing. Karena jadwal berikutnya sudah menunggu. Program Qismur Riyadhoh dah membayang bayang di hadapan.

Saat olahraga, harus pake seragam Olahraga. Kalo pun gak punya seragam, minimal pake Celana Panjang dan juga Kaos. Gak boleh Olahraga pake baju bahan, apalagi mukena hehe. Oh ya, hari Jum’at adalah hari bebas pake Celana Panjang. Karena di 6 hari selain hari Jum’at, keluar kamar gak boleh pake Celana Panjang, harus pake Rok. Itu dah Nizham (aturan)nya.

Nah, kegiatan waktu Olah Raga juga bisa bermacam macam modelnya, bisa Senam bareng, Jalan jalan ke luar Pondok, baik ke Riva Ria, Sawangan Utara atau Telaga Golf, atau kadang kadang juga Olah Raga Bebas, terserah mau ngapain. Mau main kasti, main Volley, Badminton, Tenis Meja (ini jarang yang bisa, kecuali atlet macam Rohmah Hidayati), atau main kejar tangkap (Ya, walaupun gak masuk cabang Olimpiade, yang penting tetap masuk kategori Olah Raga lah. Iya aja, gak boleh protes ^-^

Nah, setelah selesai Riyaadhah, saatnya Bulis dan Makan Pagi. Bulis atawa piket sesuai dengan pembagiannya masing-masing. Di lain waktu, Acu akan cerita mengenai Bulis ini ya, ada banyak cerita seru juga tentang Bulis ini. Percaya deh!

Di cerita acu tentang Tahu Balado, acu pernah cerita kan ya, kalo tiap hari Jum’at, menu sarapannya adalah Nasi Goreng campur Krupuk.  Nasi Gorengnya suka dimasukin pak Minto teri, atau suwiran telur dadar. Nasi Goreng ini pasti racikannya pak Minto. Karena harus dimasak di kuali besar, dan butuh tenaga luar biasa untuk mengaduk Nasi Ratusan biji itu.  Berat Tau!

Setelah makan dan piket, baru deh ke kegiatan pribadi. Biasanya sih langsung antri nyuci, baik sendiri maupun bareng bareng, kadang diselingi dengan ngobrol khas santri, atau malah pada karaokean tanpa musik hihi.

Jam 09.00 WIB, saatnya mengetuk kamar Bu Misbah, Kepala Asrama Putri kami tersayang. Ngapain?

Tiada lain tiada bukan saudara saudara

Kesempatan yang ditunggu setelah satu minggu

Rame rame menyaksikan kotak segi empat isi gambar ukuran 15 inchi, TELEVISI
Menyajikan film Hindustani, tumhara tumhere, aca aca (diucapin sambil geleng geleng kepala yaa)

Mulai keluarga Khan baik Shakhrukh Khan, Amir Khan, Salman Khan, Saif Ali Khan, bang Is Khan (ini asli ngarang), Sunil Seti, Silva Seti, Sunnyi Deoul, Bobby Deoul, Hritikh Roshan, Rani Mukherjii, Kajol, Pretty Zinta, daan masih baaanyak lagi (Harus buat judul khusus tentang Indihe ini, Yakin!)

Tanya India, tanya anak Pondok haha

Belakangan acu jadi makin maklum, ternyata di belahan Pondok lainnya juga penggemar Film India. Terbukti pas kuliah, obrolannya nyambung tentang si Anu dan si Inu. Balapan tanya info tentang film India lama maupun terbaru. Ini Fakta Sobat, Mayoritas Santri Pondok adalah Penyuka India. Baik Putri maupun Putra. Catet!

Film abis biasanya sampe jam 12.00. Pas dah tu dateng waktu Zuhur. Kalo santri Putranya shalat di Masjid, kita shalat Zuhur di Mushola. Sempet Santri Putri dulu ikutan shalat jum’at juga, itu pas zaman acu MTs sampe kelas 2. Tapi berhubung orang ganteng yang mau Shalat Jum’at makin banyak. Jadi yang cantik cantik shalatnya di Pondok aja.

Siang selepas Shalat Zuhur, kita Makan Siang, lauk Sayur Asem seger dan Sambel Teri tempe. Itu endeeeees banget. Apalagi bisa kebagian Jagung, trus digigit sambil dihirup kuah sayurnya, Uwuwuwuwuuw... Lezat tak terkiraa. Cobain ya kapan kapan.

Siang setelah makan saatnyaaa... Tiduuuuur.

Sunyi senyap deh asrama Putri. Jarang ada kegiatan. Pernah juga dulu ada kegiatan Keputrian, misalnya cara membuat tas dari karton, masak kue, pelajaran menjahit. Tapi jarang jarang. Seringkali kegiatan yang berlangsung ya kegiatan pribadi, kalo nggak istirahat, ya nggosok baju, ngerapihin lemari, atau ngumpul santai di Koya (Tempat Jemuran baju).

Nah, kalo Sore sampe Malem kegiatannya apa?
Dah kepanjangan kayaknya ceritanya. Mendingan Acu posting tersendiri aja ya..

Jadi makin panjang deh daftar PR tulisannya hehe
Memang kalo cerita Pondok, gak bakal bisa habis deeh.. ya kaaaaan?



Rabu, 03 Agustus 2016

HUJAN





Jangan ngebayangin yang romantis romantis deh hehe
Karena tulisan Acu gak ke arah-arah situ ^-^
Hujan itu Berkah, makanya sama Rasulullah saw juga diajarin, saat Hujan yang menjadi salah satu waktu maqbul untuk berdoa, jangan lupa untuk mengucapkan Allaahumma Shayyiban Naafi’an, Ya Allah jadikanlah hujan itu menjadi manfaat. Doanya pendek ya, tapi makna manfaatnya luaaas banget.

Tanaman jadi subur, kerbau makin seneng berkubang lumpur, kebanjiran rezeki mulai dari sewa payung sampai tukang bubur, tanah juga makin gembuur. Banyaak banget manfaatnya.
Termasuk lahirlah cerita penuh manfaat ini, ya kan? (Dah iya aja sik! Maksaaa)

Hujan di Pondok juga punya banyak cerita
Saat yang seru plus menegangkan untuk Santri Putra, main bola di tengah guyuran hujan. Main bola di Pondok jangan bayangin main di rumput yang hijau, atau bahkan yang sintetis. Tapi ini semen, yang kalo banyak genangan air campur tanah, resiko terpeleset itu hampir 70%. Mana mainnya gak pake Sepatu atau Sendal, karena tapak kaki anak pondok khususnya Putra itu dah kayak teflon, anti panas dan anti lengket hihi.

Ya main bola hujan hujanan gitu ya seru aja. Sesekali terpeleset gak napa, gak dirasa sakitnya. Makin deras makin seru. Apalagi kalo ditonton dan disorakin santri putri,Uhuuuy! Maklum jarang hiburan ^-^

Nah bagi mereka yang gak main bola, saat hujan adalah saat yang nikmat menyantap Mie Instan. Kalo kantin buka, bisa minta tolong dimasakin yang jaga kantin. Kalo kantinnya tutup, tinggal cari air panas, trus diseduh di dalam plastik. 

Cara nyeduhnya:
1.       Siapkan satu bungkus mie atau lebih, tergantung selera dan stok
2.       Siapkan air panas, minta sama yang ngambil pagi tadi pake termos
3.       Keluarkan bumbu dan minyak, tuang ke dalam wadah, mau piring atau gelas atau baskom, yang penting wadah
4.       Remes remes mie, biar pas dituang dah otomatis pendek pendek ukurannya, lebih gampang disendokin.
5.       Masukin air panas ke dalam plastik mie tadi. Diemin sebentar, sampai kira kira lembut
6.       Sajikan hangat hangat

Nah, cara yang begini berlaku kalo memang ada Air Panas, baik yang masih bergelegak di Dapur Pak Minto, atau dalam termos air panas yang udah diambil sebelumnya. Kalo gak ada, ya pake jurus mie rendem hihi. Jadi memang mienya direndem air dingin. Masak nggak, Ngembang iya haha.
Lain waktu, pernah juga acu makan mie gak pake air sama sekali, dikocok macam Arisan.  Tapi biasanya jenis mie goreng yang pake acara ini. Jadi bumbunya ditumpahin jadi satu ke dalam mie. Masih dalam plastik kemasan mie instan itu, trus dikocok kocok, biar bumbunya merata.

Naah, baru dah tu, minta nasi ke dapur, trus mie kocok tadi diaduk lagi campur Nasi. Biar kenyang haha. Maklum bawaan hujan kan bikin perut laper yaa. Kudu padet perut sebelum lanjut tidur haha.

Hujan juga bermakna saatnya nyuci baju. Bukan karena gak ada air sih. Tapi seru aja, nyuci sambil diguyur hujan. Yah, kurang lebih samalah sensasinya seperti main bola tadi. 
Cuma gak enaknya kalo baju dah dijemur trus keujanan, pas kering, baunya Subhaanallah. Amiiiiis. Heran juga Acu, kenapa  bisa begitu ya? Ada yang tau jawabannya?

Hujan juga saat yang tepat untuk tidur pulaas. Itu ilmunya kepake banget sampe sekarang haha. Adem seger, bikin enggan alias males mau ngapa ngapain kan. Ehehe, mungkin Anda yang lagi baca ini nggak termasuk yang males sih ya, Acu aja kal! (Nggak hujan aja tidur, apalagi hujan hahaha

Pondok juga dulu sempet banjir karena hujan terus menerus. Padahal secara kontur tanah (ehm..maklum, eks Guru Geografi juga sayah :P) Posisi Pondok itu lumayan tinggi, tapi mungkin karena drainase, selokan dan segala macamnya itu kurang rapih waktu itu, jadinya airnya menggenang, dan sempet masuk ke kamar santri Putri.

Serunya kalo lagi Banjir kayak gitu, pas makan jadi ala ala Saung, Makan di atas tempat tidur dikelilingi genangan air banjir. Soo romantic (eh iya iyaa, gak ngomong romantis romantis, hilaaaaap)

Hujan itu Cerita
Hujan itu Kenangan
Hujan itu rahmat, bermakna kasih sayang Allah yang udah menggariskan takdir Acu untuk bisa sekolah di Pondok Darul Arqam tersayang.

MAN TAKALLUM?



Salah satu program Departemen Bahasa (Qismul Lughah) yang abadi itu Takallum. Takallum itu membuat cerita pendek dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Inggris, kemudian maju ke depan Santri lalu diceritakan ulang (dihafal)

Program yang tepat untuk membiasakan Santri melatih kemampuan berbahasanya. Sekaligus jadi alat untuk membuat Santri menghafal kosakata baru, menyusun kalimat panjang, belajar buka kamus dan melatih daya ingat juga.

Mulai dapat jatah Takallum itu kelas 2 ke atas. Untuk anak kelas  1 mereka dapet jatahnya Kultum, sama membuat cerita maupun narasi pendek, tapi berbahasa Indonesia. Karena mereka kan kosakata bahasa Arab dan Inggrisnya belum banyak ya, dah berani maju ke depan gitu aja dah PRESTASI Banget.

Materi Takallum bisa macem macem, kalo Acu baca kebiasaannya ni, hampir rata anak anak santri yang baru mulai belajar takallum, pasti isi takallumnya gak jauh jauh dari materi yang diambil dari buku Aqidah Akhlaq atau Qur’an Hadits. Setiap tahun pasti materi itu akan berulang, yang dengerin berasa Dejavu eh kok kayaknya pernah denger ya, mirip banget, Macam nonton Bioskop Trans TV yang filmnya diulang ulang (Hell Boy lagi, Spiderman lagii hehe)

Nah, kalo Santri yang lama, biasanya bahan takallumnya ngambil dari kisah sehari hari. Misalnya tentang pengalaman jatuh naik motor saat Bulis ke luar, pergi ke Pasar, dimarahin guru. Kadang ada juga cerita tentang keluarga misal pekerjaan ayahnya, tinggal di mana, adeknya ada berapa, alamatnya di mana,  yang biasanya nanti akan  diakhiri dengan kalimat I love my Family very much ^-^

Nah, ada lagi model yang penting Takallumnya panjang. Ceritanya gak perlu panjang panjang, yang penting ada kalimat setelah konjungsi dan dan dan dan dannya haha.
Jadi misalnya ni, cerita tentang Hadiiqatul Hayawaan (Kebun Binatang). 

Dzaata Yaumin, suatu hari
Azhabu ma’a usratii ila Hadiiqatil Hayawaan, Aku pergi bersama keluargaku ke Kebun Binatang
Ismuha Hadiiqatul Hayawaan Raaghunaan, Namanya Kebun Binatang Ragunan
Nazhabu bis sayyaarotil ‘aammah, kami pergi naik kendaraan umum

Nah, siap siap ni bagian pamungkasnya
Hunaaka Anzhuru, di sana saya melihat.... eng ing eeeeng
Al-Asad wa ath-thuyuur wa al-qird wa al-ghanam wa al-fiil  al-Ankabuut wa al-baqoroh wa an-Naml, wa ghairu dzaalik.

Pokoknya semua nama hewan disebutin daaah. Biar panjang takallumnya haha

Ada lagi ceritanya Jejen, temen Alumni santri putra bilang ke Acu,
‘’Ane mah si, kalo maju takallum judulnya gak jauh jauh dari Azhabu ilad Diifuuuuk, Pergi ke Depok. ^-^^-^

Dan herannya, itu judul gak hanya satu yang bawain, tapi berulang-ulang diputer lagi. Sampe bagian Bahasa pusing deh, banyak banget yang ke Depok, tapi yang setor oleh oleh mah gak ada. Kebagian ceritanya doang ^-^

Nah, yang rada ngelunjak lain lagi. Setiap dapet jadwal takallum, nyari temen buat dimintain tolong terjemahin dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab atau Inggris. Teksnya mah dah ada, tinggal diterjemahin doang. Dateng iya bawa kamus, tapi tetep aja yang nyariin kosakatanya ya si temennya ini.

Parahnya lagi, temen yang dimintain tolong ya si Bagian Bahasa itu sendiri, abis itu dia koreksi sendiri, dia tanda tanganin, baru nanti dihafal sama yang punya hajat. Kalo hafal sih rada mendingan, tapi sering banget udah dibuatin, diterjemahin, dikoreksiin, sampai di depan malah gak hafal, berulang kali nanya, ‘Madza..madza, sst Madza? (Apa..apa lanjutannnya?) hahaa... yang merasa ngacung deeeh, Geleng geleng

Biasanya baik takallum maupun kultum diadakan setelah shalat Ashar. Jadi tiap sore kita akan didongengi berbagai macam cerita dalam beragam versi bahasa ^-^ , yang umumnya kalimat pembukanya seragam, seperti berikut ini:

I’m standing here
I want to speak in front of you all, in the title ‘’Going to the Zoo’’
But before it, I want to give you some vocabularies, Zoo= kebun binatang, Lion=singa, Cage=kandang
Going to the zoo, ... (bla bla bla...)

Ehm, btw bus way Sudah buat takalumnya belum?